A Worker's Journey Perjalanan Seorang Pekerja

From Dreams of Yachts to Dreams of Justice Dari Mimpi Kapal Pesiar Menuju Mimpi Keadilan

How poverty shaped my ambitions, capitalism shaped my desires, and solidarity reshaped my purpose. Bagaimana kemiskinan membentuk ambisi saya, kapitalisme membentuk hasrat saya, dan solidaritas membentuk ulang tujuan hidup saya.

Growing up, I learned that life was something you survived, not something you chose. Tumbuh dewasa, saya belajar bahwa hidup adalah sesuatu yang kamu jalani untuk bertahan, bukan sesuatu yang kamu pilih.

I am the eldest of four siblings, growing up in Indonesia where money was always scarce. To give you a picture: we would share a single packet of instant noodles between three or four of us. That was normal. That was life.

I was a decent student, but dreaming of university felt like dreaming of another planet. In my world, the most realistic path was vocational school — SMK — then straight to the factory floor. No university. No connections. No safety net.

At 18, I walked into my first factory — PT Astra Honda Motor in Cikarang, Indonesia's industrial heartland — and began a journey through the machinery of global manufacturing. But even then, questions were forming that no one around me could answer. Why are we poor? Who decided this? Could things be different?

Saya anak pertama dari empat bersaudara, tumbuh di Indonesia di mana uang selalu langka. Sebagai gambaran: kami berbagi satu bungkus mie instan untuk tiga sampai empat orang. Itu biasa. Itu kehidupan kami.

Secara akademik saya lumayan, tapi bermimpi kuliah terasa seperti bermimpi ke planet lain. Di dunia saya, jalur paling realistis adalah SMK — lalu langsung ke lantai pabrik. Tanpa kuliah. Tanpa koneksi. Tanpa jaring pengaman.

Di usia 18, saya masuk pabrik pertama — PT Astra Honda Motor di Cikarang, jantung industri Indonesia — dan memulai perjalanan melalui mesin-mesin manufaktur global. Tapi bahkan saat itu, pertanyaan-pertanyaan mulai terbentuk yang tidak bisa dijawab siapa pun. Kenapa kita miskin? Siapa yang memutuskan ini? Bisakah hal-hal berubah?

When I started earning money, I started dreaming of yachts. Ketika saya mulai menghasilkan uang, saya mulai bermimpi tentang kapal pesiar.

I moved from factory to factory — Honda, DENSO, Autotech — each time thinking that if I just worked harder, saved more, I could escape. The world tells you that if you're poor, the solution is simple: get rich.

I dreamed of luxury — yachts, expensive watches, a big house. These weren't just fantasies; they felt like justice. If the world owed me something for all those years of sharing one packet of noodles, surely it was wealth.

Then COVID hit. I was laid off along with thousands of others. I scrambled through informal work, took a three-month QA internship at PT Dharma Polimetal, and eventually made a decision that would change everything: I would migrate to Poland.

Saya berpindah dari pabrik ke pabrik — Honda, DENSO, Autotech — setiap kali berpikir kalau saya kerja lebih keras, menabung lebih banyak, saya bisa keluar dari sini. Dunia bilang kalau kamu miskin, solusinya sederhana: jadi kaya.

Saya bermimpi tentang kemewahan — kapal pesiar, jam tangan mahal, rumah besar. Ini bukan sekadar fantasi; rasanya seperti keadilan. Kalau dunia berutang sesuatu pada saya atas semua tahun berbagi satu bungkus mie instan, pastinya itu adalah kekayaan.

Lalu COVID datang. Saya di-PHK bersama ribuan pekerja lainnya. Saya bertahan lewat kerja informal, magang tiga bulan sebagai QA di PT Dharma Polimetal, dan akhirnya mengambil keputusan yang mengubah segalanya: saya akan bermigrasi ke Polandia.

I realized the system didn't fail me — it was working exactly as designed. My poverty wasn't an accident. My desire for yachts wasn't my own. Saya sadar sistemnya tidak gagal — ia bekerja persis seperti yang dirancang. Kemiskinan saya bukan kebetulan. Hasrat saya akan kapal pesiar bukan milik saya sendiri.

In Poland, standing on a factory floor, the absurdity hit me. Di Polandia, berdiri di lantai pabrik, keabsurdan itu menghantam saya.

In Poland, I packed LG televisions at LX Pantos, sorted fast-fashion at SHEIN's warehouse, built electric vehicle batteries at LT Precision, and manufactured auto parts at Dongshin Motec. Same factories, different country. Same long hours, same modest wages, same exhaustion — but now surrounded by workers from Indonesia, Ukraine, and across the Global South, all far from home.

I noticed something strange: in Indonesia, factories won't hire you past age 23. Here in Poland, people work until 55. One system discards you before you even begin to understand your rights; the other at least lets you stay long enough to question them.

One day, standing on the factory floor, it clicked. I felt absurd. Not because I was poor, but because I had spent years wanting a yacht — a yacht! — while working alongside people whose labor makes the global economy run but whose voices are never heard.

I began to read — about hegemony, about how culture shapes what we want before we even know we want it. I started asking different questions: Why are workers from Indonesia, from Ukraine, from the Philippines, all here doing the same labor? Who benefits from this arrangement?

And most importantly: why aren't we organizing together?

Di Polandia, saya mengemas televisi LG di LX Pantos, menyortir fast-fashion di gudang SHEIN, membuat baterai mobil listrik di LT Precision, dan memproduksi spare part di Dongshin Motec. Pabrik yang sama, negara berbeda. Jam kerja panjang yang sama, upah sederhana yang sama, kelelahan yang sama — tapi sekarang dikelilingi pekerja dari Indonesia, Ukraina, dan seluruh Global South, semua jauh dari rumah.

Saya menyadari sesuatu yang aneh: di Indonesia, pabrik tidak mau mempekerjakan orang di atas 23 tahun. Di Polandia, orang bekerja sampai 55. Satu sistem membuangmu sebelum kamu sempat memahami hakmu; yang lain setidaknya membiarkanmu bertahan cukup lama untuk mempertanyakannya.

Suatu hari, berdiri di lantai pabrik, semuanya jelas. Saya merasa absurd. Bukan karena saya miskin, tapi karena saya menghabiskan bertahun-tahun menginginkan kapal pesiar — kapal pesiar! — sementara bekerja bersama orang-orang yang tenaga kerjanya menggerakkan ekonomi global tapi suaranya tidak pernah didengar.

Saya mulai membaca — tentang hegemoni, tentang bagaimana budaya membentuk apa yang kita inginkan sebelum kita tahu kita menginginkannya. Saya mulai bertanya berbeda: Kenapa pekerja dari Indonesia, dari Ukraina, dari Filipina, semua di sini melakukan pekerjaan yang sama? Siapa yang diuntungkan dari pengaturan ini?

Dan yang terpenting: kenapa kita tidak berorganisasi bersama?

I'm not chasing yachts anymore. I'm building solidarity. Saya tidak lagi mengejar kapal pesiar. Saya membangun solidaritas.

Today, I'm a member of SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) — the Indonesian Migrant Workers Union — and Partai Hijau Indonesia, the Green Party of Indonesia. I'm self-taught — no university degree, no academic title — but I've learned something that no classroom could teach: the view from the bottom is the clearest view of the system.

I study politics, economics, cultural hegemony, and AI — not for credentials, but to understand the structures that shape our lives. I've worked in Honda's motorcycle assembly, packed LG TVs, sorted SHEIN fast-fashion, and built EV batteries. I've seen the full supply chain of global capitalism from the inside.

My dream now isn't a yacht. It's a world where a factory worker's voice matters as much as a CEO's. Where migrant workers organize across borders. Where the invisible becomes visible.

Hari ini, saya anggota SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) dan Partai Hijau Indonesia. Saya otodidak — tanpa gelar universitas, tanpa titel akademik — tapi saya belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan ruang kelas mana pun: pandangan dari bawah adalah pandangan paling jernih terhadap sistem.

Saya mempelajari politik, ekonomi, hegemoni budaya, dan AI — bukan untuk sertifikat, tapi untuk memahami struktur yang membentuk hidup kita. Saya pernah bekerja di perakitan motor Honda, mengemas TV LG, menyortir fast-fashion SHEIN, dan membuat baterai mobil listrik. Saya melihat rantai pasok kapitalisme global dari dalam.

Mimpi saya sekarang bukan kapal pesiar. Tapi dunia di mana suara pekerja pabrik sama pentingnya dengan suara CEO. Di mana pekerja migran berorganisasi lintas batas. Di mana yang tak terlihat menjadi terlihat.

  • Worker, Not Consumer My identity isn't defined by what I buy, but by what I build with others.
  • Self-Taught, Not Unqualified Knowledge doesn't require a degree. Curiosity and lived experience are credentials too.
  • Solidarity, Not Charity Real change comes from organizing together, not waiting for help from above.
  • Pekerja, Bukan Konsumen Identitas saya tidak ditentukan oleh apa yang saya beli, tapi oleh apa yang saya bangun bersama orang lain.
  • Otodidak, Bukan Tidak Berkualitas Pengetahuan tidak memerlukan gelar. Keingintahuan dan pengalaman hidup juga adalah kualifikasi.
  • Solidaritas, Bukan Sedekah Perubahan nyata datang dari berorganisasi bersama, bukan menunggu bantuan dari atas.

Let's Connect Mari Terhubung

I'm always open to conversations about labor, justice, solidarity, and building a better world — from the factory floor up. Saya selalu terbuka untuk percakapan tentang buruh, keadilan, solidaritas, dan membangun dunia yang lebih baik — dari lantai pabrik ke atas.